Selasa, 29 Juli 2014

THE POWER OF SOTERIA

Rasul Paulus menulis, "Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokokh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani" - Roma 1:16. Allah secara cuma-cuma menawarkan hidup kekal dalam Yesus Kristus kepada kita. Namun, memahami proses yang bagaimana hidup itu disediakan bagi kita sering sulit kita pahami. Oleh karena itu, Allah memakai berbagai gambaran dalam Alkitab untuk menolong kita memahami konsep ini. Masing-masing dengan penekanannya yang unik. Keselamatan (Yun. soteria) berarti, "pembebasan; pengantar dengan aman melalui; dan menjaga dari bahaya". Dalam Perjanjian Lama, Allah telah menyatakan diri sebagai yang menyelamatkan umat-Nya - Mzm. 27:1; 88:2; Yes. 25:6. Dalam Perjanjian baru itu digambarkan sebagai "jalan" yang menerobos kehidupan ini menuju kepada persekutuan abadi dengan Allah di sorga - Mat. 7:14; Mrk. 12:14; Yoh. 14:16; KPR 16:17; 2 Ptr. 2:2, 21. Jalan keselamatan ini harus dijalani hingga ke akhirnya. 1. Yesus menjadi satu-satunya jalan. Kristus menjadi jalan satu-satunya menuju kepada Bapa. Allah tidak menyediakan jalan lain bagi manusia untuk mencapai Dia. Hanya Yesus Kristus sajalah yang telah ditetapkan oleh Allah menjadi jalan yang dapat membawa manusia kembali kepada-Nya - KPR 4:12. Keselamatan disediakan bagi kita oleh kasih karunia Allah, yang diberikan-Nya dalam Kristus Yesus - Rm. 3:24, berlandaskan kematian Rm. 3:25; 5:8; kebangkitan - Rm. 5:10; dan syafaat-Nya yang terus menerus bagi orang percaya - Ibr. 7:25. 2. Keselamatan hanya oleh kasih karunia. Kita diselamakan hanya oleh anugerah atau kasih karunia Allah. Kita bisa menerima kasih karunia Allah hanya melalui iman pemberian-Nya. Iman pemberian Allah inilah yang memungkinkan kita percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi - Rm. 3:22, 24-25. Keselamatan datang kepada kita sebagai akibat dari kasih karunia Allah kepada kita Yoh. 3:16; dan tanggapan kita dengan iman - Efesus 2:8. 3. Keselamatan itu utuh sempurna Keselamatan utuh - sempurna ini meliputi: a. Masa lampau. Keselamatan meliputi pengakaman pribadi yang dengannya kita sebagai orang percaya menerima pengampunan dosa - KPR 10:43; Rm. 4:6-8 dan berpindah dari kematian rohani kepada kehidupan rohani - 1 Yoh. 3:14; dari kuasa dosa ke kuasa Tuhan - Rm. 6:17-23; dari kekuasaan Iblis ke kekuasaan Allah - KPR 26:18. Tahap ini membawa kita kepada hubungan pribadi yang baru dengan Allah - Yoh. 1:12 dan membebaskan kita dari hukuman dosa - Rm. 1:16; 6:23; 1 Kor. 1:18. b. Masa kini. Yesus menyelamatkan kita dari kebiasaan dan kekuasaan dosa serta memenuhi kita dengan Roh Kudus. Tahap ini meliputi: (1) Hal istimewa untuk berhubungan secara pribadi dengan Allah selaku Bapa kita dan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita - Mat. 5:9; Yoh. 14:18-23. (2) Panggilan untuk menyatakan diri mati terhadap dosa - Rm. 6:1-14 dan tunduk pada pimpinan Roh Kudus - Rm. 8:1-17 dan firman Allah - Yoh. 8:31; 14:21; 2 Tim. 3:15-16. (3) Undangan untuk dipenuhi dengan Roh Kudus serta perintah untuk tetap dipenuhi - KPR 2:33-39; Ef. 5:18. (4) Tuntutan untuk memisahkan diri dari dosa- Rm. 6:1-14; dan angkatan yang jahat ini - KPR 2:40; 2 Kor. 6:17. (5) Panggilan untuk berjuang bagi Kerajaan Allah melawan Iblis dan setan-setan - 2 Kor. 10:4-5; Ef. 6:11, 16; 1 Ptr. 5:8. c. Masa depan. Keselamatan di masa depan, meliputi: (1) Pembebasan dari murka Allah yang akan datang - Rm. 5:9; 1 Kor. 3:15; 5:5; 1 Tes. 1:10 5:9. (2) Ikut serta dalam kemuliaan ilahi - Rm. 8:29; 1 Kor. 15:49 serta menerima tubuh kebangkitan yang diubah - 1 Kor. 15:52. (3) Menerima pahala sebagai pemenang yang setia - Why. 2:7. Keselamatan yang akan datang ini adalah tujuan yang diusahakan oleh semua orang Kristen - 1 Kor. 9:24-27; Fil. 3:8-14. Semua peringatan, disiplin, dan hukuman saat ini bertujuan agar orang percaya jangan bermain-main dengan dosa lagi.

Kamis, 19 Juni 2014

3 TUGAS YESUS SEBAGAI ANAK MANUSIA

Istilah Anak Manusia yang disandang oleh Yesus sebagai Mesias di dalam dogmatika Kristen memiliki peranan yang sangat sentral. Tentu istilah Anak Manusia yang dikenakan kepada Yesus memiliki kekuatan yuridis dan juga teologis yang kuat dalam pemberitaan gereja dalam dogmatikanya. Oleh karena itu, ada tiga tugas utama yang dikerjakan atau dilakukan oleh Yesus sebagai Anak Manusia. Dalam paparan Alkitab, secara khusus dalam Perjanjian Baru, kita menemukan secara gamblang peran yang dimainkan oleh Yesus sebagai Anak Manusia. Injil Sinoptik mencatat secara akurat tentang peran atau tugas Yesus sebagai Anak Manusia. Baik pernyataan Yesus secara langsung tentang peran dan tugas-Nya sebagai Anak Manusia maupun pernyataan para murid. Berikut tiga tugas Yesus sebagai Anak Manusia, yaitu: 1. Anak Manusia yang melayani. Beberapa referensi penting tentang Anak Manusia yang melayani dapat ditemukan dalam catatan para penulis Injil secara paralel baik Matius, Markus dan Lukas. Referensi penting dalam ketiga Injil tersebut menjelaskan bahwa Yesus mengacu kepada diri-Nya sebagai Anak Manusia menegaskan dalam kata-kata, pernyataan dan tindakan-Nya "yang datang untuk melayani" membuktikan bahwa Dia adalah Anak Manusia, yaitu Mesias yang melayani. Tergenapinya harapan mesianis di dalam diri Yesus sebagai Anak Manusia membuka tabir tentang rencana mesianik Allah yang telah membumi, di mana sebagai manusia sejati, Yesus sajalah satu-satunya yang pantas dan terbukti memenuhi rancangan Allah dengan datang untuk melayani. Dengan mencermati pernyataan Yesus secara langsung dalam ketiga Injil Sinoptik, kita dapat mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Manusia Sorgawi yang membumi, mesias yang datang dengan misi khusus, yaitu melayani, menjembatani relasi "Allah - Manusia" dan "Manusia - Allah" untuk mendamaikan kedua pihak dan memberi shalom yang abadi kepada manusia dan semua ciptaan-Nya. 2. Anak manusia yang menderita. Selain menegaskan bahwa Yesus sebagai Anak Manusia yang melayani, para penulis Injil juga memberikan paparan mereka bahwa Yesus juga adalah Anak Manusia yang menderita. Penyebutan Anak Manusia yang menderita dalam Injil tentu punya implikasi teologis yang dalam. Pernyataan Yesus bahwa Anak Manusia harus menderita dan mati sangat berseberangan dengan idelisme mesianis dalam perspektif Yudaisme. Perspektif Yesus tentang diri-Nya sebagai Anak Manusia yang menderita ini untuk membuktikan penggenapan nubuatan yang telah disampaikan oleh nabi Yesaya dalam Yesaya 53 tentang hamba, yaitu mesias yang menderita. Dari pernyataan Yesus, jelaslah bahwa Anak Manusia bukan saja yang pra-eksistensi, yang maha agung tetapi hamba yang menderita dan mati untuk manusia berdosa. Penegasan pemakaian istilah Anak Manusia yang menderita ini adalah cocok dengan seluruh rancangan dan karya shalom Allah yang abadi kepada manusia dan seluruh ciptaan yang lain. 3. Anak Manusia yang eskatologis-apokaliptis. Dalam pengajaran Yesus yang diabadikan oleh para penulis Injil adalah sangat jelas bahwa Ia menekankan tentang keberadaan diri-Nya sebagai Anak Manusia, yang bukan saja melayani, menderita tetapi juga Dia adalah yang eskatologis apokaliptis. Orang Yahudi tentan sangat paham tentang nubuatan Daniel berkaitan dengan Anak Manusia yang akan datang dalam kemuliaan. Tetapi orang Yahudi tidak dapat memahami konsep Anak Manusia yang menderita seperti yang dikemukakan oleh nabi Yesaya dalam Yesaya 53. Dan karena itu, orang Yahudi secara tegas menolak dan tidak menerima konsep tersebut. Yesus sendiri yang pertama-tama berbicara tentang Anak Manusia surgawi yang hidup sebagai manusia, menyerahkan diri kepada penderitaan dan kematian, naik ke sorga dan akan datang kembali dalam kemuliaan. Kepada imam besar dan Pilatus yang menghakimi, lalu membunuh-Nya, dengan tegas Yesus katakan "Akulah Dia" - Markus 14:62); dan "engkau mengatakan" - (Matius 26:64), yang merupakan konfirmasi langsung daripada-Nya tentang siapa diri-Nya. Di sini sangat jelas bahwa Yesus konsiten menyatakan dan menekankan tentang diri-Nya sebagai Anak Manusia yang menderita, di mana di depan Pilatus yang menghakimi dan kemudian memutuskan hukuman mati untuk membunuh-Nya; Yesus yang adalah Anak Manusia yang menderita, tetapi nanti dalam kedatangan-Nya yang apokaliptis-eskatologis itu, Ia adalah hakim teragung yang akan menghakimi segenap manusia. Tatkala Ia datang sebagai hakim yang maha agung, yang maha adil, maka semua manusia akan berdiri di hadapan-Nya dan dihakimi-Nya, karena Ia adalah mesias sejati.