Translate

Wahyu Umum Langsung Dan Tidak Langsung

Wahyu umum langsung dan tidak langsung ~ Di dalam doktrin atau dogmatika teologi alkitabiah, kita membedakan dua macam Wahyu Umum, yaitu Wahyu Umum yang dikomunikasikan melalui pengantara dan Wahyu Umum yang dikomunikasikan secara langsung. Pada waktu langit menyatakan Allah, penyataan itu datang melalui perantara atau alat, di mana melaluinya Allah menyatakan kemuliaan-Nya. Dalam pengertian ini, maka seluruh alam semesta merupakan perantara dari Wahyu Ilahi. Ciptaan menyaksikan Penciptanya.

Alkitab sebagai dasar dogmatika menyatakan bahwa seluruh bumi penuh kemuliaan Allah. Sayang sekali, kita sering kali mengabaikan kemuliaan yang ada di sekeliling kita. Kita cenderung untuk hidup di atas permukaan segala sesuatu, sehingga kita tidak dapat melihat keindahan dan kebesaran yang Allah sediakan di dalam keajaiban ciptaan-Nya. Kita telah terhilang. Kita tidak tanggap lagi terhadap sekitar kita. Ide-ide agamawi menjadi sia-sia apabila ide-ide itu tidak menyatakan sesuatu yang konkrit.

Kehadiran Allah yang Mahamulia ada di sekeliling kita, namun kita sering kali buta dan tuli terhadap-Nya. Kita tidak mengerti bahasa dari doktrin atau dogmatika Wahyu Umum. Kita dituntut untuk lebih dari sekedar mencium harum bunga, untuk dapat menyadari akan keberadaan Allah. Bunga juga menyatakan kemuliaan Sang Pencipta. Kita semua berhubungan dengan Wahyu Ilahi pada waktu kita menyadari kemuliaan Allah di dalam alam. Alam bukan hal yang bersifat ilahi, tetapi kemuliaan Allah memenuhi alam dan kemuliaan Allah dinyatakan di dalam dan melalui alam. Itulah dogmatika atau doktrin alkitabiah tentang Wahyu Umum.


Selain pernyataan kemuliaan-Nya secara tidak langsung melalui ciptaan-Nya, Allah juga menyatakan diri-Nya secara langsung kepada pikiran manusia. Wahyu semacam ini disebut Wahyu Umum secara langsung - Roma 2:12-16. John Calvin berbicara bahwa Allah menanamkan semacam kesadaran ilahi pada setiap pikiran manusia. Dia berkata: "Kesadaran ilahi ini ada di dalam pikiran manusia dan merupakan insting yang bersifat alamiah, kita tidak perlu memperdebatkan masalah ini, oleh karena Allah sendiri ... telah memberikan kepada semua manusia semacam ide tentang Allah, dan ingatan yang terus diperbaharui-Nya dan sewaktu-waktu diperbesar".

Dimana-mana kebudayaan menyaksikan keberadaan semacam aktivitas agamawi. Ini semua meneguhkan akan sifat agamawi yang ada secara alamiah dalam diri manusia. Umat manusia pada dasarnya adalah makhluk religius. Karakter religius yang ada pada diri manusia dapat saja berbentuk penyembahan berhala. Penyembahan berhala merupakan sautu bukti akan adanya pengetahuan tentang Allah di dalam diri manusia yang dapat tercemar tetapi tidak dapat dihilangkan.

Jauh di dalam jiwa kita, kita mengetahui bahwa Allah ada, dan bahwa Ia telah memberikan hukum-Nya kepada kita. Kita berusaha untuk menekan pengetahuan ini dan melarikan diri dari perintah Allah, tetapi bagaimanapun susah payahnya kita berusaha, kita tidak dapat mendiamkan suara yang ada di dalam diri kita itu. Suara itu dapat ditutupi, tetapi tidak dapat dihancurkan.

Sumber: Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen.
Karya: R.C. Sproul.